Perjuangan Aris Drumer Seis Band di Kafe

Wayan Aristana Prawira, sibuk mengisi waktunya di “cafe to café”

Aris mengatakan bermain musik di mana saja dan kapan saja tak jadi masalah.

Salah seorang personel Seis band, Wayan Aristana Prawira, sibuk mengisi waktunya di “cafe to café”. Pria berkacamata ini, mengatakan bermain musik di mana saja dan kapan saja tak jadi masalah.

Sebab, musik bisa didengarkan oleh siapa saja dan di mana saja. Mendengarkan musik secara langsung atau lewat rekaman tak jadi masalah, selama itu sesuai dengan keinginan pendengarnya.

Karena itulah Aris tidak merasa canggung walau kadang terlalu sering bermain musik di kafe. Karena menurutnya, tidak hanya konser, kafe juga sering dijadikan netizen tempat tujuan untuk mendengarkan musik.

“Tapi saya tetap mengutamakan waktu buat Seis band,” ungkapnya.

Sebagai musisi muda, Aris melihat sekarang banyak kafe yang menyuguhkan penampilan penyanyi atau band.

Apalagi setelah pandemi berangsur-angsur pulih, musik kafe bisa dengan mudah ditemui di kota-kota besar, semacam Jakarta, Bandung, Surabaya hingga Medan.

Aliran musiknya pun beragam, mulai dari dangdut hingga jazz.

Tapi kadang, masih banyak yang masih menganggap kalau musisi kafe hanyalah sekedar pelengkap suasana, untuk menemani pengunjung menyantap hidangan.

“Ya memang, persaingan dalam sajian musik cafe itu kini sangatlah ketat,” tambah Aris.

Tapi baginya, banyak musisi yang kariernya berakhir sebatas di panggung kafe, tapi tidak sedikit yang berhasil memperjuangkan idealismenya, lalu sukses di panggung besar.

Aris sendiri berani ikut arus, namun tidak mau tenggelam di seputaran musisi kafe. Ia juga tetap memperjuangkan eksistensi band yang dinaunginya.

“Banyak musisi besar, yang mengawali karier musiknya dari kafe”

Ia bersama Reza dan Yudi (personil Seis band) yakin perjuangan tak akan mengkhianati hasil. Meskipun dirinya kini berkarier di cafe, ia yakin kelak akan menemui keberhasilan lebih dari sekarang.

“Banyak kok musisi besar, yang mengawali karier musiknya dari kafe. Seperti Maliq & D’ Essentials dan The Groove misalnya,” tutur Aris yang masih berdarah Bali itu.

Sama seperti musisi kafe lainnya, mereka juga mengalami pahit dan getirnya meniti karier dari sana.

Aris mengatakan kalau panggung di kafe memang menjadi tempat terbaik untuk sebuah band baru yang sedang meniti karier di industri musik.

Pria yang juga kerap disapa Wayan ini menjelaskan, sebuah band bisa terus mengasah kemampuan dan mengenal medan pasar yang dituju.

“Yang penting jangan menyerah dan tetap optimis,” pungkasnya. [KimSadewa]

Exit mobile version