Sidang Ketiga Kasus Pelanggaran Hak Cipta Hadirkan Saksi Ahli dan Penangkap

Jakarta, Sidang ketiga NAGASWARA melawan terdakwa pelaku penggaran Hak Cipta dalam bentuk aplikasi yang berlangsung di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa (8/10/2019) kemarin, menghadirkan saksi penangkap dari Polda Metro Jaya, serta ahli ITE, Dr. Bambang Pratama SH, MH, sekaligus merupakan dosen kordinator rumpun Ilmu Hukum Teknologi.

Bambang memberikan keterangan bahwa yang pertama dalam ITE itu ada unsur transaksi elektronik, pemindahan atau pemutaran informasi dari perangkat satu menuju perangkat lainnya.

Penukaran itu bisa dilakukan antar perangkat atau antar sistem atau aplikasi.

Dalam undang-undang ITE diatur, aplikasi tersebut didefinisikan sebagai sistem elektronik.

Jaksa Penuntut Umum, Badriah SH pada saat sidang melontarkan pertanyaan seputar hubungan aplication store dengan proses pembajakan elektronik.

“Sebuah aplikasi store bisa dibilang online, dengan menggunakan jaringan internet, dimana perangkat elektronik berupa lagu MP3 bisa dipindahkan, diduplikasi dan dimodifikasi, bahkan bisa ditransaksikan,” terang penulis blog “Kedaulatan Siber” ini.

Lalu JPU juga bertanya, apa arti dari dokumentary elektronik itu?

“Dokumen elektronik adalah, segala sesuatu informasi yang berupa elektronik, baik gambar, suara, maupun nominasinya, ada (informasi) konsep hak cipta juga,” jawabnya.

Maka, pembuatan undang-undang mendefinikasikannya ke bidang hukum. Mungkin pada waktu itu tahun 2008, disaat UU ITE dibuat, diharapkan juga bisa menjangkau berbagai peraturan.

“Artinya kalau memindahkan ke satu tempat, itu namanya transmisi, tapi kalau dipindahkan ke banyak tempat, disebut distribusi, kalau tanpa ijin, berarti sudah melanggar undang-undang tersebut,” tegasnya. NSM/[KimSadewa]

Mau tau berita lainnya seputar NAGASWARA, baca disini

Share Yah

Comments

comments

diberitain.com