Dua Dasawarsa Eksis, Wali Terapkan Falsafah Ala Pesantren

Jakarta, Kamis (31/10/2019) ini, band Wali genap berusia 20 tahun. Dalam buku biografi mereka yang berjudul Belum Tau Wali?, para personil band itu memastikan Wali resmi berdiri pada 31 Oktober 2019 dengan nama Fiera. Saat itu, Apoy dan rekan-rekannya masih menyandang status sebagai mahasiswa Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta yang berlokasi di Ciputat Timur, Tangerang Selatan, Banten.

Banyak pertanyaan yang dialamatkan kepada Wali, apa yang membuat band dengan para personil jebolan pesantren itu dapat bertahan selama 20 tahun? Dalam rentang waktu dua dekade itu, Wali tetap produktif, lagu-lagu mereka masih digemari, bahkan kreativitas para personilnya meluber ke berbagai area seni yang lain hingga ke dunia sosial.

“Kami menghidupkan budaya santri. Senang ngariung. Apa-apa selalu bareng-bareng. Budaya ini sudah kami lakukan dari jaman di asrama, di sekolah, di pesantren, akhirnya kami bawa sampai saat kami ngeband. Bareng-bareng terus,” ungkap Apoy dalam buku yang ditulis Sujana itu.

Menurut Apoy, nilai kebersamaan ala pesantren itu, tanpa disadari menjadi semacam ideologi atau pegangan para personil Wali dalam bermusik. Merela tidak saling menonjolkan diri. Mereka membentengi diri dari sifat merasa paling jago atau paling besar sendiri.

“Kita berusaha saling menghargai satu sama lain. Intinya menghargai orang lain. Jangan merasa saya paling berjasa, kamu paling berjasa. Tidak. Semuanya berjasa. Semuanya punya kontribusi. Dengan begitulah diri kita menjadi berharga,” tambah Apoy.

Selama 20 tahun berkarier, Wali yang beranggotakan Apoy (gitar), Faank (vokal), Tomi (drum) dan Ovie (keyboard) sudah menelurkan 7 album lagu dan 7 album kompilasi, termasuk lagu-lagu religi. Lagu-lagu mereka laris di pasaran dan dikenal hingga ke negera-negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Hong Kong dan Taiwan. NSM/(aa)

Mau tau berita lainnya seputar Wali, baca disini

Share Yah

Comments

comments

diberitain.com