Alasan Kreativitas Seni, Tapi Tindakan Keluarga Gen Halilintar Tidak Sesuai Kaidah Hukum

Jakarta, Meskipun pihak Gen Halilintar menyebut perbuatan mereka membuat dan meng-upload video lagu “Lagi Syantik” dengan alasan kreativitas seni, tapi sesuai kaidah hukum, tetap melanggar hak cipta.

Menurut Yos Mulyadi SH dan tim dari kuasa hukum NAGASWARA Music Publisherindo, yang ditemui media setelah sidang di PN Jakarta Pusat, Senin (24/2) kemarin, kaidah hak cipta dalam undang-undang itu sangat jelas.

“Sesuai kaidah undang-undang perlindungannya juga jelas. Makanya dari awal, klien kami bertanya kapan permasalahan ini diselesaikan?”, terang Yos.

Sebenarnya yang tidak mereka lakukan yang pertama adalah tentang ijin. Dan ketika ditanya soal ijin, selalu dijawab ketidaktahuan dan awam soal hukum.

Padahal ketika hukum sudah diundangkan, dianggap diketahui semua orang, termasuk pihak Gen Halilintar dan semua orang. Dan kaidah tersebut yang tidak terpenuhi.

Karena belum terpenuhi dan belum ada penyelesaian, maka supaya ada kejelasan, kita ajukan gugatan, agar ada kepastian hukumnya.

“Awalnya ada upaya damai, respon sih ada, tapi kesepakatan yang tidak tercapai,” tegas Yos.

Wartawan juga bertanya bagaimana timbul angka 9,5 M dalam gugatan?

“Timbul angka 9,5 ini gampang-gampang susah ngejelasinnya, karena berhubungan dengan hak moral. Karena pencipta itu yang dinilai adalah kreativitasnya. Dan itu susah, diomong 9,5 M juga enggak mewakili,” jawab Yos Mulyadi.

Yos melanjutkan, seperti yang disebutkan bahwa ini adalah kaidah moral tentang suatu karya cipta itu ada perlindungannya. Sementara itu menurut Yogi RPH, pencipta lagu Lagi Syantik, mungkin kalau mereka minta ijin ke NAGASWARA, bisa jadi digratisin juga. Bukan berarti harus uang.

“Bahkan yang minta ijin ke kita banyak. Misalnya dari seorang guru untuk paduan suara para siswanya. Tanpa tertulis dan tanpa neko-neko juga, sebenarnya kita itu enak,” papar Yogi, kepada media.

Tapi tiba-tiba meng-cover dan merubah lirik, itu yang melanggar kaidah hak cipta.

“Biasanya kalau di video cover, ada title Siti Badriah, tapi ini kan enggak,” tambah Yogi.

Laode Lamrus, kuasa hukum NAGASWARA Music Publisherindo, menyebut kaidah-kaidah moral seperti itu memang ada, dan diatur dalam undang-undang. Kalau jika bicara masalah angka, dalam gugatan materiil dan immaterial, dalam hukum itu wajib.

“Mau tidak mau, kita harus itung, kenapa seperti itu? Karena melekat hak ekonomi sama hak moral, sesuai dengan Undang-undang Nomor 28 tahun 2014. Itu menjadi cikal bakal kami untuk melakukan gugatan,” Lamrus.

Salah satu pelanggarannya adalah dia tidak menyebutkan nama penciptanya. merubah lirik tanpa ijin, ada di pasal 5 dan 28 tahun 2014 itu sudah sangat jelas.

“Dan ternyata di situ juga ada satu video klip yang diupload jadi ada pasal 27 ayat 1 (satu), ketika suatu ciptaan bisa dikomunikasikan dan diakses publik, itu dianggap komersil. Jadi tidak harus menghasilkan uang atau tidak,” timpal Yos.

“Kita awalnya juga tidak mempermasalahkan uang sama sekali. Ketika video itu bisa dikomunikasikan dan diakses publik, unsur komersilnya sudah melekat,” sambung Lamrus.

“Kalau kita bicara uang, sepeserpun kita enggak tahu. Untuk tujuannya, mereka mungkin bukan uang, tujuannya bisa subscriber bertambah banyak, atau viewers, itu sudah jelas, walaupun bukan uang, itu termasuk keuntungan juga,” sambung Yos.

Yos menambahkan ini sudah ketiga kalinya pelanggaran yang sampai ke pengadilan. Yang lain terselesaikan dengan teguran dan itikad baik. NSM/[KimSadewa]

Mau tau berita lainnya, baca disini

Share Yah

Comments

comments

diberitain.com